KeBanggaanKu
Benteng Keraton Buton
Jika masyarakat Jawa Tengah bangga akan Borobudur,
sebuah candi peninggalan kerajaan Budha yang tersohor di seluruh
penjuru dunia, warga Kota Bau-Bau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra)
mengagungkan Benteng dan Masjid Agung Keraton yang bernilai religius
tinggi. Benteng yang mengelilingi pusat pemerintahan Kesultanan Buton
dibangun pada masa pemerintahan Sultan Buton III, La Sangaji (Sultan
Kaimuddin).
seputar keberadaan benteng tersebut. Menurut La Ode Abu Bakar, tokoh
adat masyarakat Buton, benteng tersebut awalnya hanyalah tumpukan batu
yang mengelilingi pusat kerajaan. Selain berfungsi sebagai pembatas
pusat lingkungan keraton, tumpukan batu tersebut berfungsi sebagai
perlindungan dari serangan musuh. Pada masa pemerintahan sultan Buton
IV, La Elangi (Sultan Dayanu Ikhsanuddin), tumpukan batu tersebut
dibangun menjadi sebuah benteng. Cerita unik seputar pendirian benteng
yang beredar di tengah masyarakat mirip dengan kisah pendirian Candi
Borobudur. Konon, tumpukan batu tersebut direkatkan dengan menggunakan
putih telur. “Kalau semata-mata hanya menggunakan putih telur tentu
akan menggunakan sekian banyak telur. Secara jujur, tentu itu bukan
hanya menggunakan putih telur, tapi juga kapur yang diolah menjadi
adonan dengan campuran agar-agar dan putih telur,” kata Abu Bakar
ketika ditemui di rumahnya, Kota Bau-Bau.
benteng tersebut dikerjakan oleh seluruh penduduk kesultanan Buton,
laki-laki dan perempuan. Para laki-laki mengumpulkan batu-batuan gunung
dan menyusunnya. Sementara pasir dikumpulkan oleh kaum perempuannya.
yang berukuran keliling 2.740 meter dengan tinggi 2-3 meter dan
ketebalan dinding 1,5 meter hingga 2 meter ini memiliki 12 pintu (lawa)
dengan tambahan na (nya) yang diberi nama sesuai dengan nama atau gelar
pengawas pintu-pintu tersebut, antara lain Lawana Rakia, Lawana Lanto,
Lawana Labunta, Lawana Kampebuni, Lawana Wabarobo, Lawana Dete, Lawana
Kalau, Lawana Bajo/Bariya, Lawana Burukene/Tanailandu, Lawana
Melai/Baau, Lawana Lantongau, dan Lawana Gundu-gundu, yang berfungsi
sebagai penghubung keraton dengan kampung-kampung di sekitarnya.
tersebut menurut La Ode Mursali (48), budayawan Buton, diidentikkan
dengan jumlah lubang dalam tubuh manusia yang juga terdiri dari 12
lubang. Kedua belas lubang pada tubuh manusia tersebut adalah lubang
pori-pori kulit, mulut, dua lubang telinga, dua lubang mata, dua lubang
hidung, satu lubang anus, satu lubang saluran kencing, satu lubang
saluran sperma, dan satu lubang pusat.
saluran sperma diidentikkan dengan pintu rahasia benteng yang menjadi
jalan keluar bagi petinggi-petinggi Kesultanan atau tempat
persembunyian, jika ada serangan musuh yang mengancam dan membahayakan
keselamatan keluarga Istana Keraton. Lawana Kampebuni (pintu
tersembunyi) itu pula digunakan oleh Aru Palaka ketika hendak
bersembunyi di sebuah gua di sekitar benteng dari kejaran raja Gowa.
tatanan masyarakat suku bangsa Buton, segala sesuatu yang dibuat atau
dibangun, selalu dikaitkan dengan tubuh manusia. Makanya, semua
bangunan yang ada di dalam keraton, sarat dengan nuansa Islam. Karena
memang, para sultan yang berkuasa menganut paham Islam,” tutur Mursali.
benteng Keraton Buton dilengkapi dengan puluhan meriam yang terdapat
pada setiap pintu. “Meriam-meriam yang ada di sisi kiri-kanan pintu
masuk itu merupakan bukti kuat bahwa Kesultanan Buton pernah melawan
penjajah Belanda,” kata Mursali.
serupa juga diungkapkan oleh pemerhati budaya Buton, Lutfi Hasmar.
Menurut laki-laki yang bekerja sebagai juru bicara Pemda Kabupaten
Buton ini, di wilayah Kesultanan Buton terdapat 72 benteng yang
tersebar di sejumlah kadie (wilayah setingkat kecamatan). Di Buton
sendiri terdapat tiga buah benteng, yaitu benteng Keraton Buton yang
berbentuk huruf dal, benteng Baadia yang berbentuk huruf alif, dan
benteng Sorawolio yang menyerupai huruf mim. “Kombinasi karakter huruf
yang membentuk ketiga benteng tersebut diasosiasikan masyarakat Buton
dengan nama Nabi Adam, nabi yang mengawali kehidupan di muka bumi ini,
tutur Lutfi.
Masjid dan Makam
Jika memasuki lingkungan benteng tersebut, kita
seolah berada di masa lampau. Rumah-rumah yang terdapat di dalamnya
dipertahankan berbentuk rumah asli Buton, rumah panggung yang sebagian
besar bahan bangunannya adalah kayu. Orang-orang yang tinggal di
dalamnya pun masih berhubungan dekat dengan para petinggi kesultanan.
benteng itu sendiri, terdapat beberapa bangunan yang memiliki nilai
sejarah tinggi, Masjid Agung Keraton dan Makam Murhum.
Agung Keraton dibangun pada masa pemerintahan Sultan Sakiyuddin Darul
Alam (La Ngkariyri, Sultan Buton XIX). Masjid yang berukuran 20,6 x
19,40 m merupakan bangunan pusat kegiatan lembaga kesultanan di bidang
keagamaan. Para perangkatnya berstatus sebagai aparat kesultanan.
Abu Bakar, bahan yang digunakan untuk membangun masjid itu sama dengan
bahan untuk benteng keraton. Bangunan yang teridi dari dua lantai ini
pun memiliki 12 pintu seperti pada benteng keraton. Sementara itu, kayu
yang digunakan untuk membangun masjid tersebut berjumlah 313 potong
yang diidentikkan dengan jumlah tulang pada tubuh manusia.
anak tangga masuk masjid 17 buah, sama dengan jumlah rakaat salat umat
Islam dalam sehari. Bedug masjid yang berukuran panjang 99 cm
dianalogikan dengan asmaul husna (99 sifat Allah), dan diameter 50 cm
dimaknai sama dengan jumlah rakaat salat yang pertama kali diterima
Rasulullah. Pasak yang digunakan untuk mengencangkan bedug tersebut
terdiri dari 33 potong kayu yang dianalogikan dengan jumlah bacaan
tasbih sebanyak 33 kali.
Di samping masjid, terdapat tiang bendera
yang didirikan tidak lama setelah masjid dibangun. Menurut Abu Bakar,
kayu yang digunakan untuk tiang bendera tersebut dibawa oleh pedagang
beras dari Pattani, Siam (sekarang Thailand).
dagang selalu membawa kayu untuk persiapan mengganti bagian perahu yang
rusak di perjalanan,” katanya. Setelah dagangan mereka habis dan hendak
kembali ke Pattani, sultan meminta agar kayu tersebut ditinggalkan
untuk dijadikan tiang bendera. Dahulu, setiap Jumat dipasang bendera
kerajaan yang berwarna kuning, merah, putih, dan hitam di tiang
tersebut. Selain masjid, terdapat pula makam raja terakhir sekaligus
Sultan I Buton, Murhum yang juga dikenal dengan Sultan Kaimuddin dan
Halu Oleo (dalam bahasa Muna berarti delapan hari). Nama Halu Oleo
diberikan karena Murhum mampu menyelesaikan perang saudara antara
Konawe dengan Mekongga dalam waktu delapan hari.
Murhum
adalah raja Buton pertama yang menganut ajaran Islam. Sejak itu pula,
sistem pemerintahan berubah menjadi kesultanan yang sarat dengan
nilai-nilai Islam. Makam Murhum terletak di belakang Baruga Keraton
Buton (balai pertemuan) yang berada di hadapan Masjid Agung Keraton.